Bua — Di tengah semarak bulan suci Ramadan, murid-murid SDN 65 Bua menunjukkan bahwa kebaikan tak mengenal usia. Dengan langkah-langkah kecil namun penuh makna, mereka menebarkan kepedulian melalui serangkaian aksi sosial yang menyentuh hati banyak orang.
Kegiatan diawali dengan anjangsana ke sebuah panti asuhan. Dengan wajah polos dan senyum tulus, para siswa datang membawa bantuan sekaligus kebahagiaan. Mereka tidak hanya menyerahkan bingkisan, tetapi juga berbagi waktu, tawa, dan perhatian dengan anak-anak panti. Suasana haru pun tak terelakkan saat kebersamaan itu terjalin begitu hangat, seolah menghapus sekat di antara mereka.
Tak berhenti di sana, semangat berbagi itu berlanjut dengan pembagian sembako kepada orang tua siswa yang membutuhkan. Bantuan yang mungkin sederhana itu menjadi begitu berarti, menghadirkan rasa lega dan harapan di tengah keterbatasan. Para siswa belajar secara langsung bahwa uluran tangan, sekecil apa pun, mampu menghadirkan perubahan dalam kehidupan orang lain.
Menjelang waktu berbuka, mereka pun turun ke jalan poros Makassar–Palopo untuk membagikan takjil kepada para pengguna jalan. Di bawah terik yang mulai mereda, anak-anak itu dengan sabar menyapa para pengendara, menyerahkan paket berbuka dengan penuh keikhlasan. Setiap takjil yang dibagikan bukan sekadar makanan, melainkan simbol kepedulian dan cinta kasih yang tumbuh dari hati yang masih belia.
Kepala SDN 65 Bua, Mastura, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Baginya, pendidikan tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter dan nurani.
“Sejak dini, empati dan kepedulian harus ditanamkan kepada siswa. Hal ini akan sangat membantu pertumbuhan karakter mereka ke depan,” tuturnya.
Apa yang dilakukan murid-murid SDN 65 Bua menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus menunggu dewasa. Dari tangan-tangan kecil itu, lahir harapan besar—bahwa masa depan akan diisi oleh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati lembut dan peduli sesama.






